Sistem Pembinaan Terpadu di Dabin V UPTD Pendidikan Kec.Tanjung Brebes

Guru adalah salah satu komponen esensial dalam suatu system pendidikan di sekolah. Peran, tugas, dan tanggung jawab guru sangat penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yang meliputi kualitas iman/takwa, akhlak mulia, dan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju, adil, dan makmur, dan beradab. Untuk melaksanakan fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis tersebut, diperlukan guru yang professional.

Mekanisme pembinaan untuk melaksanakan evaluasi merupakan tugas yang dilaksanakan terus-menerus sebagai bentuk akuntabilitas terhadap pemangku kepentingan. Oleh karena itu, pembinaan terhadap guru, kepala sekolah dan penjaga perlu dilakukan di UPTD Pendidikan Kec Tanjung. Pembinaan Profesional Guru untuk Dabin V dilaksanakan di SDN Sengon 02 pada 6 Oktober 2011 yang dilakukan oleh :

  1. Kepala UPTD Pendidikan ( Hj. Khariroh,S.Pd.,M.Pd. )
  2. Pengawas TK/SD Dabin V ( Beti Susanti , S.Pd., M.Pd. )
  3. Ketua PGRI Kec Tanjung ( Markono,S.Pd. )

Pembinaan tersebut  yang dihadiri oleh Sekolah di Daerah Binaan V UPTD Pendidikan Tanjung antara lain :

  1. SD N Sengon 01
  2.  SD N Sengon 02
  3. SD N Sengon 03
  4. SD N Sengon 04
  5. SD N Sengon 05
  6. SD N Lemahbang 01
  7. SD N Lemahabang 02
  8. SD N Sidakaton 01
  9. SD N Sidakaton 02
  10. SD N Mundu 02

Dalam pembinaan ini, Kepala UPTD Pendidikan Tanjung, menyatakan bahwa guru dinyatakan sebagai pendidik professional dan ilmuwan dengan kegiatan pokok, yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan. Sementara itu, professional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Pengawas TK/SD Dabin V, Beti Susanti, S.Pd..M.Pd., yang dahulu merupakan Kepala Sekolah di UPTD Pendidikan Kecamatan Losari mengemukakan tentang pelaksanaan tugas pendidik yang perlu dievaluasi dan dilaporkan secara periodik sebagai bentuk akuntabilitas kinerja pendidik kepada para pemangku kepentingan. Hasil mekanisme pembinaan guru professional yang diperoleh berupa gambaran pembinaan kinerja pendidik professional. Karena itu, hasil pembinaan kinerja ini merupakan salah satu bentuk akuntabilitas kinerja guru professional kepada masyarakat.

Lebih lanjut, sebagai ketua PGRI Ranting Tanjung, Markono, S.Pd., pemimpin sekolah atau dinas pendidikan berkewajiban memberikan teguran lisan, peringatan tertulis, penghentian sementara, maupun penghentian permanen tunjangan profesi pendidik terhadap pendidik atau sanksi lainnya sesuai dengan kewenangan pemimpin sekolah/dinas pendidikan apabila berdasarkan hasil evaluasi kinerja tidak memenuhi persayaratan yang ditentukan dalam peraturan perundangan yang berlaku.

Pihaknya mendukung pengetatan proses sertifikasi guru pada 2012 dengan menambahkan tes tertulis sehingga bukan hanya harus lulus seleksi administrasi untuk memeroleh sertifikasi guru. Menurut dia, proses sertifikasi saat ini memang masih jauh dari standar dan memerlukan pembinaan, karena itu pihaknya mendukung langkah pemerintah untuk memperketat proses sertifikasi guru.

Paradigma Baru Penyiapan Calon Kepala Sekolah di Kab Brebes tahun 2011

Permendiknas no 28 tahun 2010 adalah paradigma baru penyiapan calon kepala sekolah lebih berkualitas. Peraturan ini ditetapkan tanggal 27 Oktober 2010. Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 162/U/2003 tentang Pedoman Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah dinyatakan tidak berlaku. Yang menjadi permasalahan adalah bersediakah raja-raja kecil meng”INSERT”kan isi peraturan ini ke dalam peraturan daerah yang dipatuhi?

Di pertengahan tahun 2011 ini Kabupaten Brebes telah melaksanakan rekrutmen kepala sekolah yang akan disertai Sertifikat Kepala Sekolah, dengan mengadakan kegiatan pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah, pada 17 – 21 Oktober 2011 bagi 80 orang calon Kepala Sekolah untuk angkatan I dan angkatan II.

Dari 19 guru dari  UPTD Pendidikan Kec Tanjung yang lolos seleksi calon kepala sekolah yang diselenggarakan pada pertengahan juli, terdapat 7 calon Kepala Sekolah yang dinyatakan mengikuti pendidikan dan pelatihan , yaitu :

  1. Ani Yuliastuti, S.Pd. ( SD Negeri Sengon 02 )
  2. Heri Budiarso, S.Pd. ( SD Negeri Pejagan 01 )
  3. Sugiyono, S.Pd. ( SD Negeri Sengon 02 )
  4. Wartim, S.Pd.SD (SD Negeri Lemahabang 02  )
  5. Umrotun, S.Pd.SD (SD Negeri Sengon 02 )
  6. Zein Rofik, S.Pd. (SD Negeri Tanjung 02 )
  7. Tarjuki, S.Pd.SD (SD Negeri Sarireja 02 )

Jika seorang guru direkrut tanpa sertifikat dan diklat alias melalui proses  sim salabim seperti dalam atraksi sulap, barangkali tidak salah jika ada sebagian orang yang mempertanyakan akan kewenangan dan kelayakan yang bersangkutan. Dengan adanya ketentuan ini,  maka ke depannya diharapkan tidak terjadi lagi kasus-kasus seperti  ini sehingga  sekolah benar-benar  dapat dipimpin oleh orang yang layak dan teruji. Hal ini sejalan dengan Visi Pendidikan Nasional 2010-2014 yaitu terselenggaranya layanan prima pendidikan nasional untuk membentuk insan indonesia yang cerdas komprehensif. Semoga.

Seleksi Ratusan Kasek dan Pengawas

Radar Tegal 10 Juni 2011
BREBES – Pemerintah Kabupaten Brebes saat ini kekurangan ratusan kepala sekolah serta tenaga pengawas di lingkungan pendidikan. Itu diketahui setelah banyak kepala sekolah dan pengawas yang memasuki masa pensiun tahun ini. Sementara daftar tunggu pengisian kekosongan jabatan tersebut belum ada.

Kepala BKD Kabupaten Brebes H Wisnu Broto SH MH menyatakan, seleksi calon kepala sekolah dan tenaga pengawas sangat mendesak untuk memenuhi kebutuhan tahun 2011 ini. Kebutuhannya terdiri dari Kepala TK, SD, SMP, SMA/SMK serta Pengawas TK/SD/SMP/Pengawas Penjaskes SD/Pengawas Satuan Pendidikan SMP/SMA/SMK. “Kuotanya sendiri saya kurang hafal, untuk Kepala SD 250 orang, SMP dua calon setiap sekolah dan lainnya bisa ditanyakan lebih lanjut,” paparnya, kemarin.

Hingga saat ini, pihaknya mengaku telah melakukan pengkajian terhadap dasar hukum seleksi. “Permendiknas No 28 tahun 2010 bisa digunakan mulai tahun 2013 yang akan ditangani tim penjamin mutu. Sehingga sementara kami mendasarkannya pada Perbup dan ditangani tim kabupaten, yang terdiri dari BKD, Bagian Hukum, Bagian Organisasi, Inspektorat, Dinas Pendidikan, PGRI, Dewan Pendidikan dan pihak terkait lainnya,” ujarnya.

Wisnu menerangkan, Sekda sendiri sebelumnya telah mengeluarkan Surat Edaran terkait persoalan tersebut. Hanya saja, lanjutnya, masih perlu direvisi beberapa poin persyaratan umum dan persyaratan khususnya. “Alhamdulillah tim sudah duduk bersama dan telah mencapai kata sepakat. Pendaftarannya diundur dari 11 menjadi 14 Juni 2011. Sementara pelaksanaan tesnya dilaksanakan pada 22 hingga 23 Juni,” jelas dia.

Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Brebes Wijanarto SPd berharap agar pelaksanaan seleksi Kepala Sekolah dan Pengawas bisa berjalan sesuai ketentuan yang berlaku, yakni Permendiknas No 28 Tahun 2010. Dia menilai SE Sekda bisa memicu kontroversi karena memuat poin bersyaratan yang janggal. “Alhamdulillah sekarang sudah direvisi, seperti pada pengalaman mengajar dari 12 tahun diganti menjadi 5 tahun. Selain itu, calon peserta seleksi sudah disamakan harus golongan III C serta beberapa poin lainnya sudah diganti. Hanya saja, perlu ada Revisi Perbup terkait dengan usia calon,” katanya. (ism)

Lomba MAPSI ke 14 SD di UPTD Pendidikan Kec Tanjung tahun 2011

Sebanyak 419 siswa SD meriahkan lomba Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan seni Islami (MAPSI) tingkat kecamatan Tanjung  yang diselenggarakan di kompleks SD N Sengon 02 dan SDN Sengon 03 yang diselenggarakan Sabtu 28 Mei 2011.

Siswa-sisiwi terbaik diikutsertakan pada dua bidang seni, yang terbagi ke dalam delapan cabang lomba, yaitu bidang pendidikan agama islam (PAI) yang meliputi, pengetahuan PAI, baca tulis alqur’an, muratil qur’an, dan praktek sholat fardhu. Sementara bidang seni islami, meliputi seni takhsinul khot khuruf alqur’an dan kaligrafi, pidato atau khtobah, seni musik rebana, dan seni macapat islami. Khusus untuk seni rebana setiap kelompok beranggotakan antara 9 hingga 11 anak.  Dan peserta yang nanti menyandang nilai terbaik, akan mewakili Kecamatan Tanjung  pada mapsi tingkat kabupaten Brebes pada tahun 2011 mendatang.

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Tanjung, Hj. Khariroh, S.Pd, M.Pd. menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Mapsi, yang disebut sebagai wahana menguji kreatifitas pelajar pada bidang studi dan seni/budaya Islam. “Kegiatan ini diharapkan menggugah sanubari kita dalam memberikan dukungan terhadap anak didik, agar kesenian islami tetap terjaga dengan baik,” katanya.

Ketua Kelompok Kerja guru (KKG) PAI sekaligus Wakil Ketua Panitia Penyelenggara M. Toha , S.Ag menjelaskan, Kegiatan Mapsi ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas peserta didik di bidang pengetahuan dan pengamalan pendidikan agama islam agar dapat meningkatkan ketaqwaan serta apresiasi seni islam bagi peserta didik sekolah dasar. “di zaman globalisasi seperti sekarang ini, menuntut perhatian kita khususnya para pendidik. Untuk lebih mengoptimalkan upaya membimbing serta mengarahkan mental dan moral anak didik kearah kehidupan yang lebih islami,” katanya.

Kegiatan ini sebagai tolak ukur penerapan kurikulum PAI SD dan keberhasilan pelaksanaan pendidikan Agama Islam dan juga sebagai tolok ukur penerapan kurikulum muatan lokal BTQ SD dan keberhasilan pelaksaaan program BTQ SD di Kecamatan Tanjung.  Dengan lomba Mapsi ini di harapkan dapat menumbuhkan rasa cinta seni islami pada diri siswa dan menumbuhkan persatuan dan kesatuan antar peserta didik sekolah dasar.

Kepala UPTD Pendidikan Kec Tanjung, Hj Khariroh,S.Pd.,M.Pd., berharap lomba Mapsi SD tingkat kecamatan ini menjadi perhatian Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes, karena tahun 2011 Kecamatan Tanjung akan dijadikan tuan rumah lomba Mapsi tingkat Kabupaten Brebes.  “Kami sangat berharap di tahun 2011 nanti Dinas Pendidikan Kab Brebes dapat meninjau kembali keputusannya agar tidak ditempatkan di Kecamatan Tanjung, disebabkan baru saja menjadi penyelenggara Lomba Siswa Teladan SD SMP bulan kemaren,” ungkapnya.

Sementara, terlihat para siswa-siswi yang menjadi peserta lomba sangat antusias mengikuti perlombaan tersebut, seperti salah satu peserta Rebana IZZATUL ISLAM dari SD N Sengon 02 yang baru tampil untuk pertama kalinya  pada tahun ini, dan meraih peringkat III,  anak anak yang menjadi penabuh rebana dalam lomba tersebut mengatakan, sangat senang dengan perlombaan mapsi ini. Demikian juga Khalimatus Sa’diyah yang akhirnya harus berada di peringkat II untuk Macapat Islami Putri karena skor nilai yang didapat sama, walaupun siswa ini pada tahun 2010 menempati peringkat I. Semoga untuk peserta MAPSI yang lainnya masih bisa berprestasi  dibidsang lainnya dengan mengaktualisasikan pembelajarannya di sekolahnya dan mampu menunjukan bakatnya di hadapan teman-teman lainnya.

MELALUI PERINGATAN HARKITNAS KE·l03 TAHUN 2011, KITA TINGKATKAN SEMANGAT KEBANGSAAN DALAM KEANEKARAGAMAN LATAR BELAKANG DAN BUDAYA BANGSA

Sejarah Singkat Boedi Oetomo

Bangsa Indonesia, yang dijajah oleh Belanda, hidup dalam penderitaan dan kebodohan selama ratusan tahun. Bahkan tingkat kecerdasan rakyat, sangat rendah. Hal ini adalah pengaruh sistem kolonialisme yang berusaha untuk “membodohi” dan “membodohkan” bangsa jajahannya.

STOVIA cikal bakal berdirinya Boedi Oetomo kini diabadikan

menjadi Museum Kebangkitan Nasional. (Filmon L. Warouw/Depkominfo)

Politik ini jelas terlihat pada gambaran berikut:

  1. Pengajaran sangat kurang, bahkan setelah menjajah selama 250 tahun tepatnya pada 1850 Belanda mulai memberikan anggaran untuk anak-anak Indonesia, itupun sangat kecil.
  2. Pendidikan yang disediakan tidak banyak, bahkan pengajaran tersebut hanya ditujukan untuk menciptakan tenaga yang bisa baca tulis dan untuk keperluan perusahaan saja.

Keadaan yang sangat buruk ini membuat dr. Wahidin Soedirohoesodo yang mula-mula berjuang melalui surat kabar Retnodhumilah, menyerukan pada golongan priyayi Bumiputera untuk membentuk dana pendidikan. Namun usaha tersebut belum membuahkan hasil, sehingga dr. Wahidin Soedirohoesodo harus terjung ke lapangan dengan berceramah langsung.

Lorong kelas di STOVIA tempat dr. Soetomo dan kawan-kawan

menuntut ilmu. (Filmon L. Warouw/Depkominfo)

Berdirinya Boedi Oetomo

Dengan R. Soetomo sebagai motor, timbul niat di kalangan pelajar STOVIA di Jakarta untuk mendirikan perhimpunan di kalangan para pelajar guna menambah pesatnya usaha mengejar ketertinggalan bangsa.

Langkah pertama yang dilakukan Soetomo dan beberapa temannya ialah mengirimkan surat-surat untuk mencari hubungan dengan murid-murid di kota-kota lain di luar Jakarta, misalnya: Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Magelang.

Pada hari Sabtu tanggal 20 Mei 1908 pukul 9 pagi, Soetomo dan kawan-kawannya: M. Soeradji, M. Muhammad saleh, M. Soewarno, M. Goenawan, Soewarno, R.M. Goembrek, dan R. Angka berkumpul dalam ruang kuliah anatomi. Setelah segala sesuatunya dibicarakan masak-masak, mereka sepakat memilih “Boedi Oetomo” menjadi nama perkumpulan yang baru saja mereka resmikan berdirinya.

Ruang Anatomi tempat pertemuan dr. Soetomo dkk membahas

pendirian Boedi Oetomo. Kini ruangan ini dinamakan Ruang Memorial

dr. Soetomo. (Filmon L. Warouw/Depkominfo)

“Boedi” artinya perangai atau tabiat sedangkan “Oetomo” berarti baik atau luhur. Boedi Oetomo yang dimaksud oleh pendirinya adalah perkumpulan yang akan mencapai sesuatu berdasarkan atas keluhuran budi, kebaikan perangai atau tabiat, kemahirannya.

Kongres Pertama Boedi Oetomo (3 Oktober – 5 Oktober 1908)

Kongres ini diadakan di Kweekschool atau Sekolah Guru Atas Yogyakarta (Sekarang SMA 11 Yogyakarta) dengan pembicara:

  1. R. Soetomo (STOVIA Weltevreden)
  2. R. Saroso (Kweekschool Yogyakarta)
  3. R. Kamargo (Hoofd der School Magelang)
  4. Dr. MM. Mangoenhoesodo (Surakarta)
  5. M. Goenawan Mangoenkoesoemo

Setelah berlangsung selama tiga hari, kongres yang dipimpin oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo mengesahkan Anggaran Dasar Boedi Oetomo yang pada pokoknya menetapkan tujuan perhimpunan sebagai berikut:

Kemajuan yang selaras (harmonis) buat negara dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, kebudayaan (kesenian dan ilmu pengetahuan).

Beberapa prestasi yang diraih oleh Boedi Oetomo diantaranya: penerbitan majalah “Guru Desa”, perubahan pelajaraan Bahasa Belanda di Sekolah Dasar yang semula hanya diajarkan di kelas tiga ke atas berubah menjadi mulai kelas satu, serta mendirikan surat kabar resmi Boedi Oetomo berbahasa Belanda, Melayu, dan Jawa.

Boedi Oetomo telah memberikan teladan dengan berdiri di barisan terdepan membawa panji-panji kesadaran, menggugah semangat persatuan, adalah suatu kenyataan yang tidak boleh dikesampingkan