Feeds:
Tulisan
Komentar

Pendidikan di Indonesia masih memerlukan sarana dan prasarana pendidikan yang memedai. Sering kali kita mendengar berita sekolah ambruk dan rusak gedungnya, sehingga sangat mengganggu pembelajaran di sekolah tersebut. Dan beberapa kali kita juga mendengar berita bahwa ada gedung sekolah yang digusur kerena status kepemilikan tanahnya tidak jelas. Hal ini menambah betapa bobroknya kondisi pendidikan di Indonesia.

Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah program pemerintah yang dirujukan untuk perbaikan gedung sekolah, mck, rumah dinas guru, dan pengadaan sarana pendidikan antara lain komputer, mebelair, buku perpustakaan, serta media pembelajaran.

Dengan diserahkannya dana serta proses pelaksanaan pembangunan gedung ini sebenarnay sangat menguntungkan. Mengapa menguntungkan? Karena sekolah bersama komite sekolah dapat merencanakan sendiri, sekolah dapat membeli bahan bangunan yang akan digunakan dengan kualitas yang baik serta dapat mengadakan pengawasan secara langsung.

Terkadang ada suatu sekolah yang kesulitan merealisasikan pembangunan sekolah tersebut karena tidak terbiasa melaksanakan suatu proyek yang dibatasi oleh biaya dan waktu. Realita yang muncul di lapangan antara lain dana tidak sesuai dengan kebutuhan karena naiknya bahan-bahan bangunan sehingga mengabaikan kualitas terutama untuk tahun anggaran 2009 karena naiknya harga yang dipnagruhi oleh krisis global alias naiknya nilai dolar terhadap rupiah, repot juga dalam pelaporan dan terbatasnya waktu.
Untuk Tahun anggaran 2009 di kecamatan Tanjung  Kabupaten Brebes ,  ada 12 lembaga SD yang akan mendapat dana DAK , anatara lain :

  1. SD Sengon 02
  2. SD Luwunggede 02
  3. SD Luwunggede 01
  4. SD Kemurang Wetan 02
  5. SD Kemurang Wetan 03
  6. SD Kemurang Wetan 04
  7. SD kemurang Kulon 01
  8. SD Kubangputat 02
  9. SD Karangreja 01
  10. SD Karangreja 02
  11. SD Tengguli 01
  12. SD Lemahabang 02

Diawal Oktober , hasil dari proses pembangunan dari Dana DAK  SD N SENGON 02 dengan wajah barunya :

Wajah depan

teras depan

Namun demikian DAK adalah salah satu program pemerintah yang cukup bagus untuk memperbaiki kondisi pendidikan di Indonesia.Dengan kondisi banguna yang bagus serta adanya sarana pendidikan yang cukup lengkap, sedikit banyak akan mempengaruhi prestasi belajar siswa bahkan siswa termotivasi untuk belajar.

Popda dan Seni tahun 2009 yang digelar pada Senin (18/5) lalu berjalan dengan lancar, sukses dan tidak ada kendala. Sebanyak 48 SD di kecamatan Tanjung  ikut berpartisipasi dalam 7 jenis lomba yang diselenggarakan di UPTD Pendidikan Kec. Tanjung tersebut.

Kegiatan Popda dan Seni  ini  bertujuan untuk menjaring bibit seniman cilik yang diharapkan mempunyai kemampuan seperti ilmu-ilmu yang lain.Sehingga nantinya siap mewakili Kec. Tanjung untuk maju ke tingkat Kab. Brebes, dan akhirnya ke tingkat Propinsi Jawa Tengah.

Melalui kegiatan inilah diharapkan  penanaman budaya pada anak didik kita akan bisa menuntun mereka untuk bisa mengenal nilai-nilai budaya yang ada.Sehingga akan terjadi keseimbangan antara nilai agama dan nilai budaya..

Jenis-jenis lomba/festifal yang dilombakan diantaranya Paduan Suara, Macapat, Seni Lukis dan Tari Daerah, masing – masing terbagi dalam cabang putra dan putri.

Setelah melalui beberapa tahap penilaian, akhirnya muncullah beberapa pemenang. Untuk SD N Sengon 02 pun dapat memenangkan hampir disemua cabang, yaitu:

  1. Juara II Tari Daerah Putri
  2. Juara II Tari Daerah Putra
  3. Juara III Macapat Putra
  4. Juara III Macapat Putri
  5. Juara III Seni Lukis Putri
  6. Harapan I Paduan Suara

juara II tari putri

paduan suara GSS 02 juara tari putra

wartawan Bodrek ( bikin pusing )

bu siti maeni, jg jadi juara lukis nih..( agak malu)

Para juara mendapatkan Piala dan Piagam penghargaan .Selain itu para juara dimasing-masing jenis lomba akan mewakili Kec. Tanjung untuk maju ke tingkat Kab. Brebes,

“Semoga para juara-juara ini bisa berlatih lebih giat lagi.Apalagi mereka nantinya akan mewakili Kec. Tanjung untuk maju ke tingkat Kab. Brebes,.Saya harap dengan kegiatan pekan festifal seni ini akan menjadi sarana penanaman seni budaya di lingkungan pelajar,” lanjut Hj. Sumaryati ,S.Pd. selaku koordinator Seni 2008 yang juga Pengawas TK/SD UPTD Pendidikan kec. Tanjung.

kepala UPTD Pend. tanjung

lomba mocopat

Hari ini tanggal 2 Mei 2009, tepat dengan acara peringatan Hari Pendidikan Nasional, SD Negeri Sengon 02 mengadakan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2009 dengan melaksanakan kegiatan :

1. Upacara bendera di kecamatan Tanjung,

Kegiatan ini diikuti oleh guru dan Kepala sekolah  seluruh kec. Tanjung beserta pegawai di masing-masing SKPD di kec Tanjung.

Upacara kali ini  dengan tidak melibatkan siswa SD,  karena siswa kelas VI sedang mengikuti test semester II. Sehingga sebagai peserta upacara adalah siswa SMP dan SMA di kec Tanjung.

2. Jalan santai bersama

Jalan santai ini diikuti oleh seluruh siswa SD di lingkungan kec Tanjung beserta guru, dan pegawai di seluruh SKPD kec Tanjung. Kegiatan ini telah dilaksanakan pada Jumat 1 mei 2009 dengan route perjalanan tanjung- sengon- lemahabang – tanjung.

3. Tour Bersama Kereta kelinci di Arena Bancakan tebang tebu ( Pesta Rakyat )

Sebelum berangkat wisata bareng ini, terlebih dahulu, siswa – siswa berkumpul bersama untuk mendengarkan kegiatan rutin di sekolah setiap jumat pagi oleh Ibu Guru Agama islam.

Ada tiga aspek penting dalam peringatan Hardiknas yang digelar di SD N Sengon 02 bersama siswa dalam siraman rohani Jumat Pagi kali ini, yaitu:

1. Puji syukur atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita, terutama nikmat yang berupa kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang seluas-luasnya

2. Keharusan kepada kita semua terutama kepada siswa didik untuk untuk meneladani para pejuang pendidikan dengan jalan rajin belajar dan rajin masuk sekolah

3. Pesan khusus untuk siswa kelas 6, bahwa Senin depan akan mengadakan ujian praktek dan sebentar lagi akan menghadapi UASBN agar mempersiapkan diri sebaik mungkin

Selaku guru kelas VI, dalam sambutan acara pagi ini juga menambahkan bahwa dalam menghadapi UASBN yang akan segera tiba, disamping harus lebih rajin belajar juga diminta untuk menjaga kesehatan, agar dalam pelaksanaannya nanti tidak ada yang tidak bisa mengikuti ujian dikarenakan sakit.

Pada akhir acara, salah satu siswa membacakan doa. Paduan suara pun tidak kalah semangat pada saat menyanyikan lagu Hymne Guru (Pahlawan Tanpa Tanda Jasa). Kita semua berdoa untuk kemajuan pendidikan Indonesia dan terutama untuk kemajuan SD Negeri Sengon 02. Semoga siswa kelas enam dalam menghadapi ujian praktek dan UASBN besok dapat melaksanakannya dengan baik sehingga dapat memperoleh hasil yang maksimal.

kereta kelinci sengon 02 sepur bancakan

hardiknas sd sengon02 admin nunggang sepur

jalan tol brebes jinontro

( Sebuah tulisan dari rekan aktivis seni di Tanjung Brebes, nama dan alamat terdapat pada admin )

di balik wajah


Setiap tahun aku diperintahkan oleh sebuah  birokrasi daerah untuk mengikuti Pelatihan Seni Lukis tingkat kabupaten. Setiap tahun pula aku mendapatkan ilmu seni lukis yang sangat berguna dan selalu berkembang. Sebagai bukti aku sudah mengantongi beberapa sertifikat hasil pelatihan seni lukis. Alhamdulillah aku sudah menularkan ilmuku kepada rekan-rekan guru SD se kecamatanku.

Walaupun tetap saja ada yang tidak hadir pada penularan hasil pelatihanku. Termasuk rekanku yang selalu bertentangan pendapat dalam hal penilaian lomba seni lukis tingkat kecamatan. Setiap aku dan rekanku tersebut ditunjuk menjadi juri hampir dipastikan selalu mengalami silang pendapat dalam memutuskan siapa pemenangnya.

Seperti contohnya, kemarin pada bulan April 2009 diselenggarakan Lomba Kreativitas Seni Lukis Tingkat Kecamatan  ketika menentukan juara I “beliau” memilih lukisan yang belum selesai diwarnai. Aku tersentak dan langsung bereaksi mengingatkanya bahwa kenindahan sebuah karya seni lukis faktor utamanya adalah pewarnaan yang maksimal, sempurna, dan harmonis. Tapi “beliau” berkilah bahwa pewarnaan bukan faktor utama. Menurut “beliau” yang utama adalah faktor perspektif. “Beliau” tidak tahu bahwa usia anak sebenarnya jangan dicekoki teknik perspektif dulu. Sifat anak masih lugu belum mengerti hukum perspektif, sehingga menurut saya “beliau” telah salah dalam memberikan penilaian terhadap karya lukis anak.

Sungguh tidak masuk di akal, banyak lukisan siswa yang menurutku bagus sekali, penuh warna keindahan, enak dilihat, tapi cukup dikalahkan oleh sebuah lukisan yang tidak sempurna, tidak punya keindahan warna dan tidak enak dilihat. Ternyata itu adalah hasil karya siswanya sendiri yang menurut “beliau” paling bagus, paling hebat, dan paling menarik. Hasil dari didikan “beliau” sendiri bukan dari ilmu yang seharusnya ( sesuai usia anak SD ). Mungkin “beliau” merasa gengsi bila menimba ilmu dari pelatihan seni lukis yang ku dapatkan dengan biaya dari birokrasi yang ada .Herannya lagi justru lukisan yang tidak sempurna itu didukung oleh beberapa panitia yang telah mengirimku ke Pelatihan Seni Lukis tingkat Kabupaten .


Dalam tahun ini segenap Kepala sekolah SD se Kec. Tanjung mengadakan kegiatan yang bersifat akademik dan budaya , yaitu :

1. Studi Banding ke SD Sukadamai 03 Bogor yang berstatus Rintisan Sekolah Berstandar Internasional ( RSBI ).

2. Kegiatan kunjungan Budaya di TMII

Rombongan Kepala SD di Tanjung ini berangkat Minggu 19 April 2009 pukul 10.00 wib, yang didampingi pula oleh Kepala UPT Dinas Pendidikan Tanjung, empat orang Pengawas TK SD, dan empat staf UPTD.

Kegiatan ini didasarkan dengan akan adanya sekolah standar nasional (SSN ) di wilayah kecamatan Tanjung tahun ini, sehingga perlu adanya pengetahuan tambahan untuk pembentukannya. Disamping itu pelaksanannya pun sesuai dengan petunjuk Bupati Brebes agar dibuat sesuai dengan acara kegiatan budaya oleh Duta Seni Brebes di TMII. Dalam hal ini rombongan mendapatkan penginapan gratis, yang merupakan hadiah bagi guru-guru di kec.Tanjung dari Bupati Brebes.

Tim duta kesenian kabupaten Brebes secara rutin setiap tahunnya mengisi pagelaran kesenian mewakili Propinsi Jawa Tengah di anjungan Taman mini indonesia indah (TMII ), pada hari Minggu malam 19 April 2009.

Pada tahun ini tim kesenian membawa dua tampilan yang akan di pertontonkan diantaranya adalah tari greget lenggot brebesan yaitu modifikasi tari jaipong yang sengaja di ciptakan untuk pementasan dan wayang golek brebesan dengan lakon wisudan pusponegoro. Pada pertunjukan para penari greget lenggot brebesan , sambil menari menawarkan beberapa produk unggulan kabupaten brebes seperti telor asin dan beberapa produk lainya , sembari diiringi musik gamelan dan karawitan.

Sedangkan pementasan wayang golek brebesan menampilkan lakon yang bercerita tentang berdirinya kabupaten brebes, pada masa kerajaan mataram di mana para pemberontak dapat di kalahkan dan aryo singosari panoto yudo di nobatkan sebagai Bupati Brebes.

Pertunjukan ini langsung disaksikan oleh Bupati H Indra Kusama beserta rombongan dan sebagai kehormatan pula untuk peserta Studi Banding Kepala SD di Kec. Tanjung dengan mengenakan seragam batik khas Salem yang bernuansa serba merah.

Kepala SD kec tanjung

seni jaipong brebes tari lenggot brebesan

Pada hari kedua, Senin 20 April 2009, rombonganpun melanjutkan kegiatan inti yaitu Studi Banding ke SD Sukadamai 03 Bogor yang berstatus Rintisan Sekolah Berstandar Internasional ( RSBI ).

Metode pembelajaran di SDN Sukadamai 3 sejak ditetapkan menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) karena merupakan satu-satunya SD di Kota Bogor yang telah menerapkan sistem pembelajaran multimedia.

Ruang kelas RSBI ditata dengan rapi. Setiap murid mempunyai meja, kursi dan loker masing-masing. Fasilitas ruang kelas pun dilengkapi fasilitas pendukung pembelajaran multimedia, seperti laptop, LCD, tape recorder multifungsi dan TV edukasi.

Dinding-dinding ruangan kelas dipenuhi pajangan hasil kreativitas murid, baik berupa tugas, hasil penilaian guru maupun karya-karya anak. Pajangan itu merupakan evaluasi pembelajaran portofolio murid.

Untuk menjaga dan memelihara kebersihan ruang kelas, murid tak diperbolehkan menggunakan alas kaki masuk kelas. “Guru tak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan kepada murid, tetapi juga memberikan pendidikan dan pembinaan tentang perilaku hidup bersih dan sehat kepada murid,” ujar Kepala SDN Sukadamai 3 Pipip Rosida.

Menurut dia, pembelajaran multimedia merupakan salah satu tuntutan RSBI. Karena itu, SDN Sukadamai 3 berupaya melengkapi ruang kelas RSBI dengan fasilitas pendukung pembelajaran yang berstandar internasional. “Guru yang mengajar di kelas RSBI sudah menerapkan pembelajaran multimedia dengan menggunakan LCD, Laptop, TV edukasi dan tape recorder multimedia. Awalnya, murid-murid RSBI kurang siap, tetapi lama-kelamaan mereka sudah terbiasa,” tuturnya.

Selain melengkapi ruang kelas RSBI dengan fasilitas pembelajaran multimedia, SDN Sukadamai 3 juga sudah menerapkan pembelajaran bilingual. “Guru menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonsia sebagai bahasa pengantar pembelajaran dalam kelas RSBI,” kata Pipip.Pada akhirnya melihat perkembangan yang ada di SD tersebut, maka haruslah ada yang didapat dari kunjungan studibanding ini yang akan diterapkan di sekolah -sekolah kec. Tanjung Brebes untuk menjadikan acuan guna meningkatkan proses belajar mengajar .

sukadamai

sdsukadamai3

sdsukadamai3

Rombongan UPTD Tanjung di Sukadamai03

RSBI2093

(Untung Sutikno, SPd / Rekan Guru di Losari Brebes)

Tanggal 8 September adalah Hari Aksara, hari yang mestinya identik dengan aktivitas membaca dan menulis. Berkaitan dengan peringatan hari aksara tersebut, saya ingin mencurahkan uneg-uneg yang membuat saya merasa prihatin dengan kompetensi guru saat ini. Kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang yang kemudian menjadikannya unggul dalam bidang tertentu dan sangat siap untuk bersaing (Hernowo, 2005:279). Kompetensi yang saya soroti dalam tulisan ini adalah kompetensi menulis yang belum menjadi budaya di kalangan guru. Bahwa kompetensi menulis di kalangan guru sampai saat ini masih sangat memprihatinkan. Tabrani Yunis -Peminat masalah sosial dan Pendidikan/Director Center for Community Development and Education (CCDE)- mengkritik para guru, bahwa budaya menulis di kalangan guru masih sangat rendah.

Diakui atau tidak, kritikan tersebut patut kita renungkan untuk menemukan akar permasalahannya. Kita tidak perlu membuat indikator terlalu banyak. Cobalah amati rekan-rekan guru di sekeliling kita. Berapa banyak di antara mereka yang membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sendiri sebagai tugas utama guru. Cobalah amati buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku. Hitunglah, berapa banyak buku yang ditulis oleh para guru. Anda membaca surat kabar? Hitunglah berapa banyak artikel yang ditulis oleh para guru. Pasti jarang sekali, bukan?

Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis? Jawabannya pasti bermacam ragam. Namun dalam kenyataannya, memang sangat sedikit guru yang menulis. Jangankan untuk menulis di media massa, jurnal atau yang lainnya, untuk membuat karya tulis yang diajukan dalam pengurusan kenaikan pangkat saja, banyak yang tidak bisa. Ironisnya lagi, untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran saja banyak yang angkat tangan. Kondisi seperti ini tentu merupakan sesuatu yang memprihatinkan bagi kita. Padahal, guru harus membuat karya tulis – salah satu unsur pengembangan profesi- kalau mau cepat naik pangkat. Menurut kabar yang saya terima sewaktu mengikuti Workshop Guru Pemandu KKG SD di LPMP Jawa Tengah pada tanggal 13-16 Agustus 2008 akan ada peraturan baru tentang kenaikan pangkat melalui angka kredit. Guru dari golongan III/b diwajibkan membuat karya pengembangan profesi minimal 2 untuk bisa naik pangkat ke golongan III/c. Dari golongan III/c ke III/d minimal 4 angka kredit pengembangan profesi. Golongan III/d ke IV/a = 6, Golongan IV/a ke IV/b = 8, IV/b ke IV/c = 10, IV/c ke IV/d = 12, dan IVd ke IV/e =14. Jika peraturan tersebut telah benar-benar diberlakukan, maka sudah saatnya bagi guru golongan III untuk memulai melakukan pengembangan profesi, yang salah satunya dapat dilakukan dengan membuat karya tulis ilmiah. Menulis karya tulis sendiri, adalah sebuah upaya pengembangan profesi dan pengembangan diri guru dalam mengekspresikan diri. Namun sekali lagi, budaya menulis di kalangan guru itu sangat rendah.

Idealnya, seorang guru harus mau dan pintar menulis. Mengapa demikian? Guru sebagai subjek pendidik dan praktisi pendidikan tentu memiliki potensi menulis yang sangat besar. Ya, guru sebenarnya memiliki segudang bahan berupa pengalaman pribadi tentang sistem dan model pembelajaran yang dijalankan. Guru bisa menulis tentang indahnya menjadi guru, atau bisa juga menuliskan soal duka cita menjadi guru. Bisa pula memaparkan tentang sisi-sisi kehidupan guru dan sebagainya.

Selama ini banyak orang menjadikan guru sebagai bahan perbincangan, sebagai bahan tulisan. Berbagai sorotan dan kritik dilemparkan orang dalam tulisan mengenai profesi guru yang semakin marginal ini. Berbagai keprihatinan terhadap profesi guru yang semakin langka ini, menjadi sejuta bahan untuk ditulis. Sayangnya, tulisan-tulisan mengenai guru, kebanyakan tidak ditulis oleh para guru. Padahal, kalau semua ini ditulis oleh guru, maka penulisan sang guru itu akan menjadi sebuah proses pembelajaran bagi semua orang.

Banyak kendala yang mengahadang aktivitas menulis di kalangan guru.

Pertama, dari sisi guru, mereka banyak yang tidak mempunyai budaya membaca yang baik. Mereka umumnya miskin bahan bacaan atau referensi. Ada ungkapan yang mengatakan, penulis yang baik berawal dari pembaca yang baik. Coba saja amati di sekeliling anda. Berapa banyak guru yang mempunyai perpustakaan pribadi. Berapa banyak guru yang sering mengunjungi perpustakaan umum untuk mencari referensi. Berapa banyak guru yang berlangganan koran atau majalah? Berapa banyak guru yang bisa dan biasa berselancar di internet? Jawaban atas pertanyaan-tertanyaan tersebut dapat mencerminkan apakah guru mempunyai budaya membaca yang baik atau sebaliknya.

Kedua, motivasi yang rendah di kalangan guru untuk menulis. Tidak sedikit guru yang walapun telah banyak memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas, namun enggan untuk menulis. Dalam kaitan ini Agus Irkham- penulis artikel kondang yang ratusan tulisannya terserak di Koran Suara Merdeka, Wawasan, Kaltim Pos, Solo Post dan sebagainya,-menegaskan bahwa kegagalan seorang untuk menjadi penulis, minimal menulis, justru lebih banyak disebabkan oleh lemahnya motivasi. Termasuk habit atau kebiasaan hidup yang dapat mendukung keprigelan dan tradisi menulis yang kuat.

Kendala ketiga, guru yang miskin gagasan. Andaikan para guru di seluruh Indonesia dapat menulis buku untuk para muridnya. Andaikan para guru dapat memperkaya para muridnya dengan cerita-cerita yang mengasyikkan, ditulis oleh mereka di karya-karya tulis mereka. Andaikan artikel-artikel, opini dan celoteh guru banyak mengisi lembaran surat kabar dan majalah.Namun, mengapa tidak banyak guru yang mau menulis. Kurangnya gagasan dalam menulis membuat guru tidak tahu apa yang akan ditulis. Bahkan untuk memulai menulis kata pertama dalam karangannya sering membuatnya berkali-kali membuang kertas akibat salah memilih kata.

Keempat, kurangnya keberanian dalam menulis. Menjadi guru dituntut mempunyai loyalitas yang tinggi. Loyalityas tersebut harus ditujukan kepada Negara sesuai dengan aturan perundangan. Namun yang terjadi, loyalitas sering disalah artikan. Pandangan bahwa guru yang loyal adalah mereka yang taat pada atasannya atau pimpinan organisasi, menurut saya adalah pandangan yang keliru. Loyalitas seperti ini akan membuatnya kehilangan keberanian dalam mengungkapkan gagasan yang mungkin dianggapnya menyimpang dari kebijakan atasan. Pandangan bahwa guru yang loyal adalah guru yang menaati semua kemauan dan perintah atasannya telah berperan besar dalam membuat guru kurang berani menunjukkan otoritas pribadinya. Ia lebih terbawa pada arus pemikiran atasannya, ketimbang menuruti gagasannya sendiri, ia tidak produktif dan tidak kreatif. Ia terjebak dalam budaya ABS-asal bapak senang. ***

( http//www.pgririau.org. /  pendidikan.net )

Teman baik sewaktu kuliah bersama ADMIN.

Guna mengetahui kesiapan siswa menghadapi Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) tingkat SD, UPT Dinas Pendidikan Kec Tanjung menggelar try out (ujian pemantapan) beberapa waktu lalu 2 – 4 Maret 2009 untuk tingkat kecamatan Tanjung, dan 11-13 Maret 2009 untuk tingkat kabupaten Brebes.

Meskipun penentuan standar kelulusan bagi siswa sekolah dasar masih diberikan sepenuhnya kepada sekolah masing-masing, panitia peneyelenggara UPT Dinas pendidikan Kec Tanjung memastikan akan menyelenggarakan uji coba sebagai parameter  melakukan pemetaan kesiapan siswa. Namun demikian bukan berarti penentuan kelulusan siswa SD masing diberikan ke sekolah masing-masing lantas tidak akan diawasi.

Tujuan menyelenggarakan try out untuk SD adalah juga sebagai langka memetakan kesiapan mereka menjelang UASBN, kita sadari memang pemberian kelulusan adalah hak dari sekolah masing-masing, tetapi kita ingin meastikan nilai yang dicapai siswa bukan karena hasil katrol tetapi betul-betul murni hasil jeripayah siswa

Penetapan kriteria kelulusan try out UASBN SD ini mengacu pada standar nilai minimal kelulusan yang diberlakukan untuk tingkat Kabupaten Brebes, yakni, siswa wajib memiliki nilai rata-rata minimal 4, 00 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan dengan tidak ada nilai di bawah 4,00. Atau boleh memiliki nilai minimal 4,00 untuk salah satu mata pelajaran dengan syarat nilai mata pelajaran lainnya minimal 5,00,

Hasil UASBN SD yang dicapai, ternyata masih mencemaskan mengingat masih ada siswa yang belum berhasil memenuhi standar kompetensi lulusan (SKL) yang dipersyaratkan. Mata pelajaran yang di-UASBN-kan meliputi Matematika, IPA dan Bahasa Indonesia.

Nilai yang diperoleh siswa terbaik di SD SENGON 02 adalah:

TRY OUT Tingkat Kec Tanjung :

1. Dewi Aisyah ( rerata = 8.05 )

( Bhs. Indo : 8.40 IPA : 7.50 MTK : 8.25 )

2. Trisna Ayu Alfiana ( rerata = 7.95 )

( Bhs. Indo : 8.00 IPA : 8.00  MTK : 8.00 )

TRY OUT Tingkat  Kabupaten Brebes  :

1. Dewi Aisyah ( rerata = 8.28 )

( Bhs. Indo : 7.60 IPA : 8.00 MTK : 9.25 )

2. Trisna Ayu Alfiana ( rerata = 7.95 )

( Bhs. Indo : 7.60 IPA : 7.75  MTK : 8.50 )

Dari hasil try out ini akan dianalisis baik guru maupun Pengawas di UPTD Pendidikan Kec. Tanjung, dan nantinya akan menjadi barometer penilaian sudah sejauh mana pencapaian lulusan dari mereka, sekaligus menjadi cambuk untuk terus meningkatkan kemampuan siswanya dalam mempersiapkan diri menghadapi UASBN.

DPR mendorong pemerintah untuk mempercepat proses sertifikasi dan pembayaran tunjangan profesi bagi guru/dosen swasta maupun negeri dan guru/dosen agama pada satuan pendidikan umum serta membuka akses bagi para guru/dosen secara berkeadilan. Hal itu terungkap saat rapat kerja gabungan Komisi X dan Komisi VIII DPR RI dengan Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, dan Kepala Badan Kepegawaian Negara, di Nusantara I, Selasa (3/1). “Percepatan sertifikasi guru antara guru PNS dan guru swasta harus dilakukan dengan prinsip keadilan proporsional,” ujar Pimpinan Irwan Prayitno (F-PKS). Sebelumnya, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo menuturkan, tujuan sertifikasi guru adalah meningkatkan profesionalisme guru, meningkatkan mutu proses pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional dan meningkatkan kesejahteraan guru. Namun, menurutnya, di beberapa kabupaten/kota masih belum melaksanakan penetapan peserta sesuai dengan ketentuan dan criteria yang berlaku. Beberapa dinas kabupaten/kota mengalami keterlambatan dalam pengiriman dokumen portofolio dari dinas pendidikan kabupaten/kota ke LPTK. Selain itu, keterlambatan dimulainya proses sertifikasi lebih disebabkan pengolahan format database individu peserta di pusat tidak tepat waktu. Pembayaran tunjangan profesi dari bank mitra KPPN sering terlambat. Oleh sebab itu, untuk mengatasi persoalan sertifikasi guru, Mendiknas memberikan beberapa solusi. Pertama, mulai tahun 2009 pemberkasan untuk penerbitan SK penerima tunjangan profesi dialihkan dari pusat ke LPMP masing-masing propinsi. Kedua, perlu adanya alokasi dana sosialisasi dan pengolahan berkas sertifikasi di dinas pendidikan propinsi dan kabupaten/kota dari APBD masing-masing.

(www.dpr.go.id)

PENYERAHAN SERTIFIKAT PENDIDIK

BAGI GURU KAB. BREBES, KAB TEGAL DAN KOTA TEGAL

Pada hari Rabu 4 Februari 2009, di Islamic Center Kabupaten Brebes,  dilaksanakan Upacara Penyerahan Sertifikat Pendidik bagi Guru Profesional yang lulus sertifikasi guru melalui penilaian portofolio serta Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) tahun 2008 dari peserta sertifikasi Kab. Brebes, Kab Tegal, dan Kota Tegal.

Dalam laporannya   Ketua Pelaksana Rayon 12 Dr Sugiyo MSi menyampaiakn bahwa, Rayon 12 UNNES  telah menyelesaikan penilaian portofolio untuk kuota tahun 2008 terhadap 13.801 guru, dengan rincian tahap pertama 13.131 orang dan kuota tambahan 670 orang.

Setelah dilaksanakan penilaian melalui portofolio:

1.  untuk kuota pertama lulus 7.697 peserta sementara yang tidak lulus 4.631.

Dari 4.631 peserta PLPG tahun 2008 dan peserta tahun 2007 sejumlah 27 peserta mengikuti PLPG selama 90 jam           atau 9 hari dan dinyatakan lulus sejumlah 4.472 atau sebesar 96%. Sisanya, yang gagal 187 peserta atau 4%.

2.  untuk kuota tambahan (pemenuhan), lulus 388 peserta,

a. tidak lulus 279,

b. dan ada 3 peserta yang diskualifikasi.

3. bagi kuota tambahan yang tidak lulus, akan mengikuti PLPG 2009.

4. Pada 2008 peserta dari Depag berjumlah 1.467 orang.

lulus 368 orang dan yang tidak lulus sejumlah 1.075 mengikuti PLPG.”

Pembantu Rektor III Unnes Dr Masrukhi MPd dalam sambutannya mengatakan, penyelenggaraan penyerahan sertifikat pendidik kali ini berbeda. ”Kalau pada tahun lalu, seluruh proses penyerahan sertifikat dipusatkan di Semarang, tahun ini penyerahan dilaksanakan di daerah dan di luar jam pelajaran. Pasalnya, guru yang profesional tidak akan mengorbankan jam pelajaran anak didiknya.”

Selamat Bagi bapak Ibu Guru yang sudah menerima, terutama bagi teman – teman Guru dan saudara kami dari Kec Tanjung yang berjumlah 11 orang, dan 2 saudara dari Kec Kersana. Semoga sertifikat yang sudah diterima dapat meningkatkan profesional Bapak Ibu dalam mengajar.

Akhirnya kita bertemu dan bersama lagi  dalam melengkapi pemberkasan pengusulan SK Ditjen PMTK dan berakhir dalam pencairan tunjangannya pun juga sama, walupun jalan menuju portofolio kita ini berbeda-beda.

( kita tidak pernah berbeda……..cuma nasibnya )


Tulisan Sebelumnya »